Turbin Gas

Turbin gas mengonversi energi kimia bahan bakar gas menjadi energi mekanik melalui siklus Brayton. Digunakan di PLTGU dan PLTG, turbin gas modern mencapai efisiensi siklus kombinasi 60–64%. Dapat di-start cepat untuk beban puncak.

Prinsip Kerja Siklus Brayton

Turbin gas bekerja berdasarkan siklus Brayton: udara masuk ke kompresor dan ditekan, lalu dicampur dengan bahan bakar di ruang bakar. Campuran dibakar menghasilkan gas panas bertekanan tinggi. Gas tersebut mengalir melalui blade turbin, mendorong rotor berputar. Putaran dikopel ke generator untuk menghasilkan listrik.

Turbin gas PLTGU – siklus Brayton pembangkitan listrik

Bahan bakar utama turbin gas adalah gas alam, meskipun beberapa unit dapat menggunakan diesel atau bahan bakar cair. Turbin gas heavy-duty memiliki kapasitas 50–500+ MW per unit. Turbin aeroderivative (berbasis mesin pesawat) berkisar 20–50 MW dengan start sangat cepat.

Unit turbin gas heavy-duty – kompresor ruang bakar dan ekspansi

Efisiensi turbin gas saja 35–40%. Dalam konfigurasi combined cycle dengan HRSG dan turbin uap, efisiensi mencapai 60–64%. Pengembangan teknologi H-class dan J-class terus mendorong efisiensi lebih tinggi.

Turbin gas aeroderivative – start cepat beban puncak

Pemeliharaan turbin gas meliputi inspeksi hot path, overhaul, dan upgrade. Suku cadang dan layanan dari OEM (Original Equipment Manufacturer) atau pihak ketiga tersertifikasi memastikan keandalan operasi.

Turbin gas combined cycle – efisiensi 60–64%

Transisi ke Hidrogen

Beberapa turbin gas modern telah didesain untuk beroperasi dengan campuran hidrogen. Turbin hydrogen-ready dapat menerima 20–30% hidrogen tanpa modifikasi; dengan retrofit, beberapa model mampu 100% hidrogen. Ini menjadi jalur dekarbonisasi untuk PLTGU existing.

Pembakaran hidrogen lebih cepat dibanding gas alam, sehingga memerlukan desain burner khusus untuk mencegah flashback. Emisi NOx perlu dikendalikan melalui sistem pembakaran dry low-NOx atau water injection.

Infrastruktur hidrogen hijau (elektrolizer, penyimpanan, transportasi) masih berkembang. Pilot project co-firing hidrogen di PLTGU telah berjalan di beberapa negara. Indonesia dengan potensi PLTS dan PLTA dapat memproduksi hidrogen hijau untuk aplikasi tersebut.

Principal pembangkit seperti GE Vernova, Siemens Energy, dan Mitsubishi Power menawarkan turbin gas hydrogen-ready serta layanan retrofit untuk co-firing hidrogen.

10 Pembangkit Utama Indonesia

PLTU Paiton

  • Probolinggo & Situbondo, Jawa Timur
  • 4608 MW
  • PT PLN Nusantara Power, PT Paiton Energy, PT Jawa…
  • Beroperasi
Detail »

PLTU Suralaya

  • Pulomerak, Cilegon, Banten
  • 3440 MW
  • PT Indonesia Power
  • Beroperasi
Detail »

PLTU Batang

  • Ujungnegoro, Kab. Batang, Jawa Tengah
  • 2000 MW
  • PT Bhimasena Power Indonesia
  • Beroperasi
Detail »

PLTU Jawa 7

  • Kab. Serang, Banten
  • 2100 MW
  • PT SGPJB (Shenhua Guohua Pembangkitan Jawa Bali)
  • Beroperasi
Detail »

PLTU Tanjung Jati B

  • Jepara, Jawa Tengah
  • 1320 MW
  • PT PLN Nusantara Power
  • Beroperasi
Detail »

PLTU Cirebon 1 (Jawa-1)

  • Desa Kanci, Kab. Cirebon, Jawa Barat
  • 660 MW
  • PT Cirebon Electric Power
  • Beroperasi
Detail »

PLTU Cirebon 2

  • Kab. Cirebon, Jawa Barat
  • 1000 MW
  • PT Cirebon Energi Prasarana
  • Beroperasi
Detail »

PLTU Sumsel-8 (Tanjung Lalang)

  • Desa Tanjung Lalang, Muara Enim, Sumatera Selatan
  • 1320 MW
  • PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP)
  • Beroperasi
Detail »

PLTU Indramayu

  • Kab. Indramayu, Jawa Barat
  • 990 MW
  • PT PLN Nusantara Power
  • Beroperasi
Detail »

PLTU Rembang

  • Kab. Rembang, Jawa Tengah
  • 630 MW
  • PT PLN Nusantara Power
  • Beroperasi
Detail »